Wisatawan Jepang dan Inggris Berdecak Kagum Lihat Pesona Pulau Begadung

Penulis: Editor_basuki | Ditulis pada 02 Februari 2018 10:54 WIB | Diupdate pada 02 Februari 2018 11:00 WIB


BALIHO – Tim dari Hitachi Jepang, Asia Infratructure Corporation (AIC) dan Urdi serta tim Universitas Bangka Belitung (UBB) berfoto bersama di bawah baliho marine geopark Pulau Begadung Island. 

BEGADUNG, UBB  --        Sepuluh industriawan Jepang dari Hitachi Heavy Industries dan seorang Inggris dari Asia Infrastructure Corporation (AIC), Jepang,  seharian penuh,  Kamis  (1/02/2018),  mengunjungi Pulau Begadung, yang terletak di baratdaya Pulau Bangka. 

Mereka terkagum-kagum dan mengaku  terkesima  ketika tiba di Pulau Begadung.  Pasalnya begitu turun dari perahu yang membawa mereka dari Desa Tanjungpura,  langsung   menyaksikan   hamparan bebatuan metamorf dan  jajaran goa burung wallet  di seputar bibir pantai pulau  seluas tujuh hektar ini.

“Saking kagum dan terkesima, Roddy staf AIC asal Inggris mengungkapkan niatnya  untuk meminta  ibunya,  seorang profesor di salah satu universitas di Inggris,  untuk datang dan  melihat langsung fenomena batuan  dan keindahan  Pulau Begadung,” tukas Ghiri Basuki, Kepala TIK UBB,   Kamis petang.

Ghiri merupakan   salah seorang anggota tim dari Universitas Bangka Belitung (UBB) yang mendampingi 10 industriawan Jepang dan empat staf Urdi (Urban and Regional Development Institute) yang  selama empat hari (1-4 Pebruari)  mengunjungi sejumlah lokasi marine geopark di Pulau Bangka.

Tim ekspedisi  UBB  sendiri diketuai Prof Dr Ir Agus Hartoko MSc, dengan anggota -- antara lain  Irvani (dosen jurusan Teknim Pertambangan),  Asiah, Atur (dosen jurusan Kelautan), Ari Riski, Aris Dwi --  dan Dr Delianis.  Tim ini jauh hari telah menyusun agenda kunjungan  ke Pulau Bangka.

“Mereka tiba di Pangkalpinang  Rabu  malam.  Kamis pagi, tepatnya pukul setengah delapan,  kita berangkatkan  ke pantai Desa Tanjungpura di Sungaiselan menggunakan satu bus UBB.  Titik keberangkatannya   dari rumah dinas Rektor UBB,” ujar Ari Riski, staf UBB Press.

Selama kurang satu jam perjalanan dari Pangkalpinang, 10 industiawan Jepang, seorang Inggris dan empat staf Urdi tampak begitu menikmati perjalanan.  Sambil ngobrol, mereka bercanda ria dan mengabadikan suasana pedesaan di sepanjang perjalanan rute Pangkalpinang-Pantai Desa Tanjungpura menggunakan kamera.

Rombongan wisatawan tiba di Pantai Tanjungpura pukul 8.47 menit. Lima menit kemudian mereka dibawa menyeberangi laut menuju Pulau Begadung;  menggunakan dua perahu nelayan. Ombak laut saat itu tidak begitu besar sehingga dalam tempo  kurang setengah jam pelayaran,  mereka sudah  tiba di Begadung.

GOA – Tim dari Hitachi Jepang, AIC dan Urdi menyelusuri goa berisi burung walet di Pulau Begadung.

Begitu kaki rombongan menginjak pasir pantai nan putih, Prof Agus Hartoko  panjang-lebar menjelaskan seputar pertumbuhan coral atau karang di perairan Pulau Begadung.  Sementara Atur dan Delianis menceritakan mengenai bakau dan kelebihan bakau di sini yang mampu  hidup di formasi batuan.

Setelah itu rombongan dan tim UBB  membersihkan pantai dari sampah dedaunan.  Semua wisatawan Jepang, Inggris, Urdi dan tim UBB nampak gembira tatkala ‘baku’ (saling) pungut sampah dan memasukkan ke dalam kantung khas,   sehingga hanya dalam tempo singkat  pantai  ‘kinclong’ (bersih).

Tak kalah serunya adalah  kegiatan mendirikan  baliho (papan nama) informasi tentang  marine geopark Pulau Begadung di tepi pantai.  Semua rombongan  dengan sukacita terlibat  bersama-sama  mendirikan baliho tersebut.   Usai istirahat, mereka disuguhkan air kelapa muda yang dipetik di Tanjungpura.

Setelah dahaga hilang disiram air kelapa muda, pukul 11.05 para  wisatawan Jepang, AIC dan Urdi yang didampingi Prof Agus Hartoko, Dr Delianis dan anggota tim lainnya mengelilingi pantai Pulau Begadung.  Mereka terkagum-kagum menyaksikan keindahan pantai. Roddy, staf AIC dari Inggris, bahkan spontan mengucapkan: ‘wow beautyfull….!”

Hamparan batuan metamorf mencolok mata menjadi perhatian para  wisatawan Jepang, Inggris dan tim Urdi. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan menyaksikan  fenomena alam itu.  Semua mengabadikannya  dengan kamera yang ada di tangan masing-masing.

Irpani, dosen Teknik Pertambangan yang adalah juga geolog UBB menjelaskan bebatuan metamorf itu telah terjadi 100 tahun  lalu.  Sementara Prof Agus menambahkan batuan metamorf merupakan hasil dari ‘up-life’ (terangkat) akibat tekanan dari dasar laut (edogenik).

 Guru besar di bidang kelautan ini menjelaskan bebatuan yang terserak di Pantai Begadung terbagi dalam tiga kategori, yakni metamorf, granit dan kuarsa.  Sedangkan guratan putih bagai lilin madu di setiap batu itu menandai proses pemanasan bertemu dengan cuaca dingin.

“Yang menarik, selain warnanya, arah miring bebatuan seragam ke satu arah dan bercahaya bagaikan kristal.  Itu semua menandai rekaman proses alam yang terjadi jutaan bahkan miliaran tahun lalu,” ujar Agus Hartoko.

Pulau Begadung merupakan satu dari gugusan lima pulau di baratdaya Pulau Bangka.  Pulau lainnya itu adalah Pelepas, Lampu, Tikus dan Nangka.  Namjun hanya Pulau Nangka dan Begadung saja yang tidak dihuni warga.  Karena itu pula maka rekaman proses alam itu tak sedikit pun diganggu oleh tangan-tangan jahil manusia.

Kegiatan yang cukup mendebarkan dialami rombongan wisatawan ketika memasuki goa dengan kedalaman tiga meter.  Goa yang terletak di tebing pulau ini dihuni burung walet dan menjadi ‘aset’ (kekayaan) Pulau Begadung.

Dipercaya ada ‘penunggunya’ maka tak seorang pun yang berani mengambil sarang walet berharga tinggi itu.   Abang S Wanto (65), ahli waris empunya Pulau Begadung, menjelaskan di pulau ini taka da yang berani berkebun; terkecuali keluarga ahli waris yang hendak bercocok tanam.

“Tak usah takut memasuki goa, atau menyelusuri dan naik ke atas pulau. Di sini tidak ada binatang buas, sehingga tak heran penyu suka bertelur di sini,” ujar Abang S Wanto.

Usai  keliling pulau, menyelusuri goa dan makan siang, wisatawan Jepang, Inggris dan tim Urdi tak sabar ‘menikmati’ laut Pulau Begadung.  Didampingi mahasiswa UBB, mereka lalu ramai-ramai menceburkan diri ke laut untuk  berenang (swimming), menyelam (diving) dan snorkeling.

Selain mendirikan baliho, bersih-bersih pantai, memasuki goa dan mengelilingi Pulau Begadung,  dalam rangkaian kunjungan wisatawan Jepang dan  Inggris ini tim UBB menyumbang dua tempat penuangan sampah kepada warga masyarakat.

Rabu petang semua rombongan kembali ke Tanjungpura menggunakan perahu nelayan.  Rombongan Jepang, Inggris dan Urdi serta tim UBB kemudian kembali ke Kota Pangkalpinang.  Kamis pagi perjalanan dilanjutkan ke marine geopark di pulau-pulau kecil di Bangka Selatan.

Tim dari Jepang terdiri dari Yusuke Higaki (Asian Infrastrukture Corporation), Daiki Komatsu (Hitachi Research Laboratory),  Kenji Abe (Hitachi Public System), Masahiro Matsunaga (Hitachi HQs), Sosho Oikawa (Hitachi System Business Unit),  Nahoko Takada (Hitachi Research Laboratory), Nironori Sato (Hitachi Public System), Ryota Takao (Hitachi Public System) dan YuskiSugahara.

Sementara staf AIC asal Inggris adalah Roddy, dan tim Urdi masing-masing Firman K Hamdanai, Freieda Fidia, Mutia dan Ivo Setiono (Aris Riski, Eddy Jajang Jaya Atmaja)


Topik

Geopark