+62 (0717) 422145 Senin-Jumat: 07.30 - 16.00 WIB
Link Penting UBB

Artikel UBB

Universitas Bangka Belitung's Article
20 Juni 2008 | 01:50:22 WIB


UBB : Antara Universalitas dan Karakter Lokal


Ditulis Oleh : Admin

Tulisan Rektor Universitas Bangka Belitung (UBB), Bustami Rahman "Universitas Berkelas Dunia (Bagian 1)", merupakan sebuah impian yang menarik untuk diwacanakan secara serius. Hal ini mendasar karena pendidikan merupakan tonggak penting dalam sejarah peradaban manusia. Gegap gempita modernitas tak bisa dilepaskan dari perkembangan dunia pendidikan. Semua orang mengamini bahwa dunia pendidikan menjadi modal penting perjalanan peradaban umat manusia. Maka perhatian untuk dunia pendidikan tak mungkin seadanya, sekenanya. Ia perlu digarap serius, dievaluasi dengan cermat dan dihidupi dengan segenap jiwa, akal dan raga.

Pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan. Pembebasan dari mitos, tahkyul, kepicikan, egoisme sempit, konservatisme buta, pendek kata cara berpikir dan bertindak ekslusif ke corak berpikir dan bertindak inklusif.
Idealisme ini bukan tanpa dasar karena bila kita menelusuri sejarah, pendidikan senantiasa menjadi motor pencerahan (enlightenment). Para pendiri negeri ini adalah orang-orang terdidik. Spirit pembebasan secara esensial dan eksistensial, harus melandasi gerak sebuah universitas. Bila berkaca pada realitas di atas maka UBB agar menjadi sebuah universitas handal perlu menghidupi dimensi-dimensi ini. Pertama, kontekstualisasi; sebuah universitas harus mengakar ke dunia dan secara khusus di ruang dan waktu di mana dia hadir. Ia perlu bicara, tentang dan bersama rakyat. Ia perlu menggali dan merefleksikan cara berpikir, cara bertindak, cara berelasi rakyat. Dari sana baru sebuah universitas sanggup memahami dengan rasional dan bertanggungjawab dimensi sosial, kultural, ekonomi dan dimensi-dimensi lain kehidupan. Dari konteks kehidupan seperti ini pembebasan itu tumbuh. Para pendiri negeri ini baik itu Tan Malaka, Soekarno, Moh. Hatta, Sutan Sjahrir adalah orang-orang terdidik. Perjuangan kemerdekaan, lepas dari penjajah menjadi konteks mereka saat itu. Sebuah universitas tak mungkin bermukim di menara gading dalam kenyamanan tanpa mendengar, melihat dan mengalami secara langsung nadi kehidupan rakyat.

Kedua, kreatifitas; universitas yang hadir di tengah masyarakat berarti juga berdinamika bersamanya. Dinamika dan perubahan hanya bisa dipahami dan dikendalikan secara elegan dan bermartabat bila kreatifitas diberi ruang. Kreatifitas melahirkan orang-orang genial macam Archimedes, Ibn Sina, Newton, Einstein, Galileo Galilei, dst. Dimensi kreatifitas merupakan modal fundamental manusia dalam mengembangkan kehidupan. Di lembaga pendidikan ranah ini perlu dirangsang secara metodik dan sistimatis agar kreatifitas itu tumbuh. Universitas perlu menjadi ajang kreatifitas, hanya dalam suasana akademik seperti ini dunia pendidikan dihargai oleh dunia karena ia memberi sumbangan yang berarti bagi masyarakat.

Ketiga, yang juga tidak kalah penting untuk kiprah sebuah universitas adalah kepercayaan (trust). Omongan dunia pendidikan itu berbobot kalau argumentasinya akurat mendekati kebenaran tanpa motif apapun. Di tengah globalisasi yang menerpa segala segi kehidupan kepercayaan menjadi cara mengada (mode of being) manusia yang semakin sulit dipertahankan. Dunia seakan bergerak atas dasar Darwinisme sosial dengan jargon yang kuat yang menang (survival of the fittest). Di tengah situasi seperti ini maka dunia pendidikan harus tetap bicara dengan dasar kepercayaan. Ketika dunia melihat orang lain adalah serigala (homo homini lupus) dunia pendidikan harus terus membangun kepercayaan bahwa orang lain adalah sesama yang harus dihormati. Di titik ini krusial ini dunia pendidikan berkiprah dengan kemantangan rasional dan kedewasaan dalam bertindak.
UBB dalam Pusaran Global

Globalisasi menjadikan dunia sekadar sebuah kampung raksasa (global village). Namun globalisasi tidak berarti semuanya harus sama, globalisasi tidak identik dengan homogenitas, ia bukanlah coca-colanisasi, mcdonaldisasi, semuanya harus sama dan seragam. Globalisasi berarti juga yang lokal diberi ruang untuk berkembang. Maka tepat Roland Robertson dalam karyanya Globalization: Social Theory and Global Culture mengatakan, globalisasi berarti juga glokalisasi. Sehingga globalisasi tidak menjadi penjarahan global (global pillage). Tetapi justru sebaliknya ia dijiwai oleh muatan lokal yang digali secara mendalam, rasional dan berbudi. Pada titik ini UBB mendasari segala kiprah akademisnya.

Rasionalitas bergerak di dua medan yakni universalitas dan kekhasan lokal. Karena memang demikian cara kerja ilmiah, ia berlaku universal tetapi di balik universalitas ada kondisi-kondisi khas lokal yang justru semakin memperkaya. Australia misalnya cukup intens menggali studi tentang Asia karena betapa pentingnya Asia bagi negeri kanguru itu.

Demikian juga Singapura, intens dan masyhur dengan teknologi kesehatan karena negeri "singa" itu sadar ia tak banyak mempunyai sumber alam yang mumpuni seperti negara ASEAN lainnya. Demikian juga di Indonesia, masing-masing universitas perlu menampilkan kekhasan yang memperkaya dunia akademik baik di dalam negeri maupun di kancah internasional. Hanya dengan cara itu kehadiran lembaga pendidikan diperhitungkan dalam gerak kehidupan.

UBB sebagai lembaga pendidikan tentu juga memikul tanggungjawab ini. Ia perlu secara intens menggali dan menemukan kekhasan lokal. Bila ditelaah UBB yang hadir di tengah masyarakat Babel perlu menyelami secara mendalam dan luas kekayaan dan kekhasan ranah kultural dan sosial masyarakat Babel. Masyarakat Babel didominasi dua etnis yang cukup menonjol yakni Tionghoa dan Melayu. Kedua etnis ini menyimpan kekayaan sosial dan kultural tidak hanya untuk Indonesia tetapi juga Asia pada umumnya. Bahasa Indonesia yang digunakan sampai hari ini mempunyai akar dari bahasa Melayu. Di Babel tuturan bahasa Melayu ini begitu kaya dan terus berkembang. Selain bahasa pola relasi antar dua etnis ini pun unik, penghargaan akan keberbedaan terpelihara. Ada upaya saling menerima dan memahami satu dengan lainnya dengan segala risiko. Di kampung-kampung dan kota-kota Babel warna sosial kultural ini mengakar dengan cukup kuat.

Maka bisa dikatakan bahwa Babel merupakan sebuah laboratorium sosio-kultural bangsa bahkan dunia yang perlu dijaga. UBB tentu berada di garda depan usaha untuk terus menggali dan menghidupkan kekayaan ini. Perkembangan teknologi, ekonomi, industri, pariwisata misalnya tidak bisa mengabaikan begitu saja kekhasan sosio kultural yang telah dan akan terus hidup di Babel. UBB diarus globalisasi atau dalam upaya "menginternasional" diri harus juga menjadi juru bicara paling fasih tentang kekayaan Babel.

Ini merupakan sumbangan UBB untuk masyarakat Babel khususnya dan dunia umumnya dalam gelombang besar globalisasi. Sehingga arus globalisasi yang konon tak terhidari ini tidak melindas kita tetapi justru dimengerti dan ditata secara rasional dan bermartabat. Dan dari sini pula internasionalisasi ditempatkan, internasionalisasi diberi isi dan nutrisi oleh muatan lokal. Internasionalisasi berarti menampilkan keunikan kultural dan sosial lokal. Babel mempunyai kekayaan itu. Tugas ini tentu menjadi panggilan semua masyarakat Babel pada umumnya dan terutama UBB pada khsususnya.

UBB perlu tampil sebagai juru bicara Babel yang kontekstual, kreatif dan dipercaya. Dengan demikian ia sungguh menampilkan secara original inteligensia Babel yang khas dan memperkaya khazanah dunia. Dengan usaha ini impian agar mahasiswa asing datang bukan menjadi sesuatu yang mustahil. Mereka datang untuk belajar kekhasan dan keunikan inteligensia kita yang termanifestasi dalam berbagai dimensi kehidupan. (*)

Penulis: Andreas Doweng Bolo (Staf dan Dosen di Pusat Kajian Humaniora UNPAR Bandung ) (Pernah praktik kerja di Bangka Selatan 1999-2000)

Source :
Bangka Pos
edisi: Kamis, 19 Juni 2008

UBB Perspective

Hybrid Learning dan Skenario Terbaik

NEGARA HARUS HADIR DALAM PERLINDUNGAN EKOLOGI LINGKUNGAN

Mental, Moral dan Intelektual: Menakar Muatan Visi UBB dalam Perspektif Filsafat Pierre Bourdieu

PEMBELAJARAN TATAP MUKA DAN KESIAPAN

Edukasi Kepemimpinan Milenial versus Disintegrasi

Membangun Kepemimpinan Pendidikan di Bangka Belitung Berbasis 9 Elemen Kewarganegaraan Digital

Menuju Kampus Cerdas, Ini yang Perlu Disiapkan UBB

TI RAJUK SIJUK, DIANTARA KESEMPATAN YANG TERSEDIA

TATAP MUKA

Mengimajinasikan Dunia Setelah Pandemi Usai

MENJAGA(L) LINGKUNGAN HIDUP

STOP KORUPSI !

ILLEGAL MINING TIMAH (DARI HULU SAMPAI HILIR)

KARAKTER SEPERADIK

SELAMAT BEKERJA !!!

ILLEGAL MINING

Pers dan Pesta Demokrasi

PERTAMBANGAN BERWAWASAN LINGKUNGAN

GENERASI (ANTI) KORUPSI

KUDETA HUKUM

Inflasi Menerkam Masyarakat Miskin Semakin Terjepit

NETRALITAS DAN INTEGRITAS PENYELENGGARA PEMILU

Siapa Penjarah dan Perampok Timah ???

Memproduksi Kejahatan

Potret Ekonomi Babel

Dorong Kriminogen

Prinsip Pengelolaan SDA

Prostitusi Online

Menjaga Idealisme dan Kemandirian Pers

JUAL BELI BERITA

POLITIK RAKYAT DAN TANGGUNG JAWAB PEMIMPIN

Penelitian Rumpon Cumi Berhasil di Perairan Tuing, Pulau Bangka

Budidaya Ikan Hias Laut

Gratifikasi, Hati-Hatilah Menerima Sesuatu

KEPUASAN HUKUM

JANGAN SETOR KE APARAT

JAKSA TIPIKOR SEMANGAT TINGGI

Perairan Tuing, Benteng Sumberdaya Perikanan Laut di Kabupaten Bangka

GRAND DESIGN KEPENDUDUKAN (Refleksi Hari Penduduk Dunia)

Berebut Kursi Walikota

Kenalkan Bangka Belitung dengan Foto !

Demokrasi yang Tersandera

Pamor Rajendra

DNSChanger dan Kiamat Kecil Internet

MARI DISIPLIN BERLALU LINTAS

Radiasi Perlu Diteliti

Kebablasan Otonomi Daerah : Obral Izin Pertambangan

TIMAH PENCABUT NYAWA

Labelling

Penegakan Perda Tambang Lemah

Gratifikasi = Suap

Bukan Berarti Sudah Sejahtera

Tips Menjadi Jurnalis Online Sejati

Ujian (Nasional) Kejujuran

Bukan Politis

Saatnya Mencontoh Sumber Energi Alternatif Brazil

LEGOWO DAN BERSATU MEMBANGUN BABEL

Aspek Hukum Hibah dan Bansos

Pengawasan Senjata Api

Gelatin Tulang Rawan Ikan Hiu

MERAMU PAKAN IKAN LELE

Tak Etis Sembako Naik

Berharap Gubernur Baru Babel Pro Perikanan

Aquaculture's Never Ending

AYO MENULIS, MENULIS DAN MENULIS (SILAHTURAHMI KEILMUAN-Bagian 5)

SIAP MENANG (TAK) SIAP KALAH?

Pendalaman Demokrasi Babel Menuju Demokrasi Substansial

PENJAHAT ONLINE

Akuakultur di Bangka Belitung

KEPEMIMPINAN NASIONAL ANTI KORUPSI DALAM MENEGAKKAN KEDAULATAN HUKUM

Waspada Aksi Pencurian

Perangkingan Webometrics pada Universitas Sedunia

URGENSI JALAN SATU ARAH

Wartawan Sehat, Pers Sehat

GUBERNUR BARU DAN PROGRAM KEPENDUDUKAN

ANALISIS HASIL PILGUB BABEL : ANTARA DE FACTO DAN DE YURE

Menimbang Nalar dan Nurani Cagub

Babel dan Demokrasi Hijau

Anak Kepulauan Cerdas

PROFIL BANGKA BELITUNG

PASCAPANEN SORGUM

AWAL MENUJU KEMANDIRIAN RUMPUT LAUT PULAU BANGKA

POPULARITAS MINUS KUALITAS

Ketika Pilkada Berakhir Penjara

TIGA MISI - TIGA KUALIFIKASI

Polemik Pemidanaan Kasus Xenia Maut

Mutiara Di Timur Belitung - Refleksi Sembilan Tahun Beltim

SAATNYA PERPUSTAKAAN BERINOVASI

Memilih Calon Abdi Masyarakat - Renungan Untuk Para Kandidat

Maling Berdasi itu Koruptor

Rakyat Berdaulat Tolak Politik Uang